Saya pertama kali membuat website profesional untuk klien kira-kira tahun 2011.
Waktu itu saya merasakan betul kerumitan aspek teknis proses pembuat layout web yang responsif dan elegan, mulai dari media query, CSS tertentu hanya untuk browser tertentu (misal Internet Explorer 10).
Namun kini, mulai 2026 cara saya membuat website benar-benar berubah total. Saya mulai terbiasa menggunakan AI generatif untuk merancang website.
Beban teknis jadi semakin ringan karena sudah diambil alih AI, dan saya tinggal prompting saja, fokus saya jadi bergeser. Kini saya lebih memilih untuk fokus membangun website yang strategis—mampu mendatangkan keuntungan bisnis.
Dulu “Building”, Sekarang “Curating”
Era sebelum AI generatif adalah era penuh tantangan dalam membuat website.
Untuk memastikan sebuah section dua kolom tidak tampak pecah di layar ponsel saja dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. Kadangkala butuh waktu berjam-jam dan menghabiskan bergelas-gelas kopi. Ini namanya benar-benar “building”.
Cara yang membosankan ini tentu sudah saya tinggalkan mulai 2026 ini. Biar AI saja yang “building”, saya tinggal kurasi saja, memilih hasil yang paling pas. Jadinya lebih efisien kan?
Apa itu Kurasi?
Kurasi yang dimaksud di sini adalah mengevaluasi output AI sudah sesuai dengan yang saya inginkan.
Ibaratnya saya menjadi sutradara atau pengarah, AI yang kerja.
AI generatif sudah canggih. Kedepannya akan makin canggih. Saya yakin itu.
AI bisa membuatkan saya sepuluh variasi layout yang secara visual dan estetika enak dipandang. Tapi AI belum tentu tahu selera dan kebutuhan saya. AI masih buta kepribadian brand dan bagimana target audiens yang dituju.
Disinilah peran kurasi dibutuhkan. Karena saya tidak asal bikin website tanpa makna yang jelas.
Prioritas Baru: Fokus Total pada Konversi (The Human Edge)
AI yang tugas utamanya mempersingkat proses memberikan waktu ekstra untuk saya berpikir strategis agar website benar-benar bisa mendatangkan konversi.
Di era AI ini, website yang “hanya bagus dilihat” sudah menjadi komoditas murah. Siapa pun bisa membuatnya dengan bantuan mesin. Yang membedakan saya sebagai profesional adalah kemampuan untuk memastikan website tersebut mampu mengubah pengunjung menjadi pembeli atau klien. Saya tidak lagi menjual “jasa koding”, saya menjual “solusi pertumbuhan bisnis jangka panjang”.
Kriteria Komponen Website dengan Konversi Tinggi
Sebagai seorang kurator strategi konversi, saya menerapkan standar ketat dalam mengevaluasi komponen website yang dihasilkan oleh AI. Berikut adalah kriteria yang saya pegang untuk memastikan website tersebut memiliki tingkat konversi yang tinggi:
- Headline yang memiliki nilai jual (value proposition) yang persuasif
- Hierarki visual yang terstruktur
- Call-to-action (CTA) yang strategis dan persuasif
- Social proof & sinyal kepercayaan di titik krusial
- Loading speed super cepat di bawah 2 detik
Rinciannya saya tulis di postingan Checklist Strategi Konversi Website: Standar Minimum yang Harus Dipenuhi Setiap Halaman Bisnis di Era AI 2026.
Kesimpulan
Perjalanan dari tahun 2011 hingga 2026 telah mengajarkan saya bahwa teknologi akan terus berubah, namun prinsip dasar bisnis tetap sama: Trust & Outcome.
Mulai 2026 saya akan meninggalkan masa-masa menulis CSS manual untuk Internet Explorer, menulis media query untuk layout responsif, dll. Saya gak mau capek dan kehabisan waktu.
Kehadiran AI yang makin canggih kini memberikan waktu ekstra untuk difokuskan di lini yang lebih esensial untuk bisnis.
Kini, saya bisa lebih banyak berdiskusi dengan klien tentang target bisnis mereka, daripada repot dengan kode yang error yang butuh waktu untuk di-debug.
Bagi saya, menjadi desainer web di tahun 2026 bukan lagi soal seberapa jago kita menulis kode, seberapa jago kita bikin layout, tapi seberapa tajam insting kita dalam mengkurasi teknologi untuk menciptakan keberhasilan bagi klien.